
RUJUKANNEWS.com, GOWA — Keluhan petani terkait kekeringan yang melanda lahan pertanian di Kelurahan Lembang Parang, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, mulai mendapat respons dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa.
Informasi mengenai kondisi sawah yang mengering tersebut disebut telah sampai ke dinas terkait. Bahkan, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa telah menginstruksikan kepala bidang terkait untuk meninjau langsung lokasi terdampak.
Lanjut baca berita ini
Tunggu sebentar, isi berita lengkap akan segera dibuka.
Hal itu disampaikan Fitri, Kasi pada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa, saat dikonfirmasi terkait tindak lanjut atas persoalan kekeringan yang dikeluhkan petani di wilayah Barombong.
“Info kekeringan ini sudah sampai ke dinas dan Pak Kadis sudah menginstruksikan ke kepala bidang terkait besok untuk meninjau lokasi tersebut untuk diusahakan solusinya,” ujar Fitri, Rabu, 10 Juni 2026.
Rencana peninjauan tersebut dijadwalkan dilakukan pada Kamis, 11 Juni 2026. Langkah ini diharapkan menjadi awal dari upaya penanganan terhadap kondisi sawah petani yang mulai mengering akibat minimnya pasokan air.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa, Zubair Usman, saat dikonfirmasi pada Kamis, 11 Juni 2026, memastikan bahwa pihaknya akan melakukan pengecekan langsung ke lokasi sawah yang terdampak kekeringan.
“Insya Allah hari ini dilakukan pengecekan ke lokasi oleh tim kami. Sudah dilaporkan juga oleh penyuluh ke BRMP, termasuk pengelola irigasi,” ujar Zubair.
Sebelumnya, lahan pertanian di Kelurahan Lembang Parang dilaporkan mengalami kekeringan. Tanaman padi yang baru beberapa hari setelah tanam disebut mulai menguning dan terancam mati apabila tidak segera mendapat pasokan air.
Petani setempat berharap peninjauan yang akan dilakukan pihak Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa tidak hanya sebatas melihat kondisi lapangan, tetapi juga menghasilkan langkah nyata untuk menyelamatkan tanaman padi yang masih tersisa.
Mereka berharap pemerintah daerah bersama instansi teknis terkait dapat segera menghadirkan solusi cepat, baik melalui distribusi air darurat, pompanisasi, maupun koordinasi pengaturan air ke lahan pertanian.
Kekeringan di wilayah tersebut disebut kerap berulang setiap musim tanam kedua. Karena itu, petani berharap penanganan yang dilakukan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mengarah pada solusi jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus terjadi setiap tahun.


