
RUJUKANNEWS.com, GOWA — Keluhan petani terkait sawah yang tidak mendapatkan pasokan air di Kelurahan Lembang Parang, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, kembali mendapat penjelasan dari pihak terkait.
Penjelasan tersebut disampaikan Muh Natsir Sibali, PPA yang berkaitan dengan sistem pengairan Saluran Irigasi Kalukuang/D.I. Kampili, saat dikonfirmasi terkait penyebab air belum mengalir maksimal ke sawah petani.
Lanjut baca berita ini
Tunggu sebentar, isi berita lengkap akan segera dibuka.
Menurut Muh Natsir Sibali, kondisi tersebut terjadi karena adanya keterlambatan laju pengaliran air menuju area persawahan. Selain itu, banyaknya sedimen di saluran tersier yang menuju ke sawah petani turut menjadi kendala, sehingga air lambat sampai ke wilayah hilir.
“Mohon maaf, ini karena adanya keterlambatan lajunya pengaliran air ke sana dan banyaknya sedimen di saluran tersier yang menuju ke sawah petani, sehingga air agak menanjak dan lambat sampai di hilir,” ujar Muh Natsir Sibali, Rabu, 10 Juni 2026.
Penjelasan tersebut memperkuat bahwa persoalan kekeringan yang dikeluhkan petani tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan air di lahan pertanian, tetapi juga menyangkut kondisi saluran pengairan yang mengalami kendala teknis.
Sebelumnya, berdasarkan data yang dihimpun, Saluran Irigasi Kalukuang merupakan bagian dari sistem Daerah Irigasi atau D.I. Kampili. Adapun unit pelaksana lapangan yang berkaitan dengan wilayah tersebut disebut berada pada UPTD Daerah Irigasi Kampili, sementara sistem irigasi tersebut juga berkaitan dengan BBWS Pompengan Jeneberang.
Sebelumnya pula, lahan pertanian di Kelurahan Lembang Parang dilaporkan mengalami kekeringan. Tanaman padi yang baru beberapa hari setelah tanam disebut mulai menguning dan terancam mati apabila tidak segera mendapat pasokan air.
Persoalan ini juga telah mendapat respons dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa. Fitri, Kasi pada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa, sebelumnya menyampaikan bahwa informasi kekeringan tersebut telah sampai ke dinas.
Menurut Fitri, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa telah menginstruksikan kepala bidang terkait untuk meninjau lokasi terdampak pada Kamis, 11 Juni 2026, guna mengupayakan solusi bagi petani.
Dengan adanya penjelasan dari pihak PPA, petani berharap penanganan tidak hanya berhenti pada peninjauan lapangan. Mereka berharap ada langkah teknis yang segera dilakukan, termasuk pembersihan sedimen di saluran tersier, pengaturan aliran air, serta percepatan distribusi air ke lahan pertanian.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kekeringan di wilayah tersebut disebut kerap berulang setiap musim tanam kedua. Para petani berharap instansi terkait dapat berkoordinasi agar air benar-benar sampai ke sawah, sebelum ancaman gagal panen semakin sulit dihindari.


