
RUJUKANNEWS.com, GOWA — Puluhan hektare lahan pertanian di Kelurahan Lembang Parang, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, kini dilanda kekeringan. Kondisi tersebut membuat para petani setempat resah, lantaran tanaman padi yang baru beberapa hari setelah tanam mulai menguning dan terancam mati.
Kekeringan ini membuat petani berada dalam situasi sulit. Tanah persawahan mulai retak, pasokan air tidak lagi mencukupi, sementara tanaman padi yang seharusnya tumbuh subur justru mulai layu sebelum waktunya.
Lanjut baca berita ini
Tunggu sebentar, isi berita lengkap akan segera dibuka.
Berdasarkan keterangan petani setempat pada Rabu, 10 Juni 2026, sejumlah area persawahan mengalami retakan cukup lebar akibat minimnya pasokan air. Sebagian tanaman padi juga mulai mengering. Kondisi ini membuat petani khawatir modal usaha yang telah mereka keluarkan terancam hilang apabila tidak ada penanganan cepat.
Daeng Taba, perwakilan kelompok tani setempat, menyebutkan bahwa kondisi tersebut sudah masuk tahap kritis. Ia berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera turun tangan mencari solusi, terutama melalui distribusi air darurat agar tanaman padi yang masih tersisa dapat diselamatkan.
Sementara itu, Ketua DPD LSM INAKOR Gowa, Asywar saat dimintai tanggapan menyebutkan bahwa sejauh ini baru Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL yang telah turun melakukan survei. Menurutnya, kunjungan tersebut dilakukan pada Senin, 8 Juni 2026, namun hingga kini belum ada kejelasan terkait tindak lanjut dari hasil survei tersebut.
“Baru PPL yang sudah survei, tapi belum ada kejelasan,” ujar Asywar, Rabu, 10 Juni 2026.
Menurut petani, krisis air di wilayah Lembang Parang bukan kali pertama terjadi. Kekeringan seperti ini disebut kerap berulang setiap memasuki musim tanam kedua. Persoalan tersebut dinilai menjadi bukti bahwa kebutuhan air pertanian di wilayah itu belum tertangani secara permanen.
Retakan tanah yang meluas di area persawahan menjadi gambaran nyata betapa seriusnya kondisi yang dihadapi petani. Jika dalam beberapa hari ke depan tidak ada pasokan air, ancaman gagal panen dinilai sulit dihindari.
Para petani berharap pemerintah tidak hanya hadir dengan langkah darurat, tetapi juga menyiapkan solusi jangka panjang. Salah satunya melalui pembenahan sistem irigasi, pengaturan distribusi air, serta memastikan saluran sekunder benar-benar mampu mengalirkan air hingga ke lahan petani.
Bagi petani Lembang Parang, persoalan kekeringan bukan sekadar masalah tanaman padi yang mengering. Di balik itu, ada modal, tenaga, dan harapan hidup keluarga yang ikut terancam apabila musim tanam kembali berakhir tanpa hasil.
Mereka berharap jeritan petani di wilayah Barombong tidak lagi menjadi cerita tahunan yang berulang setiap musim tanam kedua, melainkan menjadi perhatian serius agar sektor pertanian tetap bertahan dan petani tidak terus berada dalam bayang-bayang gagal panen. (As)


