RUJUKANNEWS.com, GOWA — Kisah Rangga, siswa sekolah dasar asal Dusun Borongbulo, Desa Paranglompoa, Kecamatan Bontolempangan, Kabupaten Gowa, yang sempat viral pada Oktober 2025 karena ke sekolah hanya membawa singkong bakar sebagai bekal, sempat menjadi perhatian banyak pihak.
Saat itu, kondisi kehidupan Rangga bersama kakeknya, Suddin, menyentuh banyak kalangan. Sejumlah pihak, mulai dari pemerintah hingga instansi terkait, disebut datang langsung melihat keadaan rumah yang mereka tempati.
Di tengah perhatian tersebut, keluarga mengaku dijanjikan bantuan bedah rumah karena kondisi tempat tinggal mereka dinilai sangat memprihatinkan.
Namun, lebih dari enam bulan berlalu, bantuan yang dijanjikan itu belum juga berujung pada pembangunan rumah.
Pada 12 April 2026, rumah panggung sederhana berbahan kayu yang ditempati Rangga bersama kakeknya terlihat dalam kondisi lama.

Dinding rumah tampak mulai rusak, lantainya tidak lagi kokoh, sementara sebagian bangunan terlihat lapuk dimakan usia.
“Waktu itu dijanji mau dibedah rumah, tapi sampai sekarang belum ada,” ungkap Kakek Rangga.
Meski begitu, proses awal sebenarnya disebut telah berjalan. Ketua Tim LACAK (Layanan Cepat Atasi Kemiskinan) Kabupaten Gowa, Kaharuddin Daeng Muji, menjelaskan bahwa asesmen terhadap kondisi keluarga Rangga sudah dilakukan.
“LACAK sudah asesmen dan sudah menyerahkan hasilnya ke Dinsos dan Baznas,” ujarnya.
Setelah itu, pada Selasa (14/04/2026), pihak BAZNAS Kabupaten Gowa melalui Wakil Ketua, Munawir Muhammad, mengakui adanya kendala koordinasi yang membuat bantuan sempat tertunda.
“Miss komunikasi di kira Dinsos provinsi mau kerja,” jelasnya.
Ia pun memastikan bantuan akan segera dijalankan oleh BAZNAS.
“Iye segera di eksekusi BAZNAS minggu ini pak,” katanya.
Adapun BAZNAS juga memaparkan rincian bantuan berupa rumah permanen berbahan batu penuh ukuran sekitar 5 x 6 meter, dengan estimasi anggaran sekitar Rp26 juta melalui program Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB).
Bahkan, proses pengerjaan saat itu diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 hari.
Setelah penjelasan tersebut, pada Kamis (23/04/2026), Kakek Rangga dipanggil ke Kantor BAZNAS Kabupaten Gowa untuk menghadiri proses serah terima bantuan bedah rumah.

Momen itu menjadi tanda bahwa bantuan yang lama dinantikan akhirnya memasuki tahap penyerahan resmi.
Dengan begitu, keluarga dan masyarakat berharap pembangunan rumah layak huni bisa segera dimulai.
Namun, harapan itu kembali tertunda.
Pada Rabu (29/04/2026), pembangunan fisik rumah belum juga terlihat di lokasi.
Sementara itu, Agussalim, sosok yang diberi amanah oleh pihak BAZNAS Gowa dalam proses pembangunan rumah Kakek Rangga, menyampaikan bahwa pengerjaan sebenarnya mulai bergerak, namun distribusi material masih terkendala cuaca dan akses jalan.
“Sementara baru besi yang ada di lokasi pake mobil pick up, klu pasir blm bisa kata sopir klu pake mobil truk,” jelas Agussalim saat dikonfirmasi, Senin (04/05/2026).
Ia menambahkan, pihak BAZNAS juga terus memantau perkembangan pembangunan dan rutin menanyakan progres di lapangan.
“Mereka bertanya progres, cuma saya bilang terkendala cuaca, karena Bontolempangan setiap hari hujan sehingga angkutan material tidak ada sopir yang bisa untuk sementara ke lokasi,” tambahnya.
Menurutnya, kondisi hujan yang hampir setiap hari terjadi membuat jalan menuju lokasi pembangunan sulit dilalui, terutama bagi kendaraan pengangkut material berat seperti pasir.
Selain itu, akses jalan yang rusak di beberapa titik juga menjadi hambatan tersendiri, sehingga proses pengiriman bahan bangunan harus menyesuaikan kondisi lapangan.
Agussalim juga menjelaskan, apabila cuaca membaik dan hujan berhenti selama beberapa hari berturut-turut, jalan menuju lokasi diperkirakan mulai mengering dan distribusi material lanjutan bisa dilakukan lebih maksimal.
Dengan demikian, proses pembangunan disebut belum sepenuhnya berhenti, melainkan masih berada pada tahap awal pengangkutan material dan menunggu kondisi memungkinkan untuk pengerjaan lebih lanjut.
Meski begitu, pada pantauan terbaru Senin (04/05/2026), rumah lama yang ditempati Rangga bersama kakeknya masih berdiri tanpa perubahan.
Rumah panggung kayu yang sebelumnya dijanjikan akan diganti dengan rumah permanen masih tampak rapuh seperti sebelumnya.
Sampai hari ini, 4 Mei 2026, rumah Kakek Rangga masih berdiri seperti biasa. Sementara pembangunan fisik belum menampakkan pengerjaan penuh, proses distribusi material disebut masih bertahap dan menunggu cuaca serta kondisi jalan memungkinkan untuk pengangkutan lanjutan. (*)