Ikuti Saluran WhatsApp Syadir Ali Dapatkan tulisan, renungan & informasi terbaru

Ketika Manusia Tidak Lagi Memperjuangkan Kebenaran, Melainkan Mempertahankan Tafsirnya

Oleh _Mustamin Raga

“Aku tahu bahwa aku tidak tahu.”
— Socrates

Di antara sekian banyak paradoks dalam kehidupan manusia, barangkali tidak ada yang lebih ironis daripada kenyataan bahwa begitu banyak pertumpahan darah, permusuhan, peperangan dan kebencian justru dilakukan atas nama kebenaran.

Kebenaran, yang seharusnya menjadi cahaya bagi kehidupan, sering kali berubah menjadi bara yang membakar peradaban. Bukan karena kebenaran itu yang bersifat merusak, melainkan karena manusia kerap kali gagal membedakan antara kebenaran, tafsir terhadap kebenaran dan klaim atas kebenaran.

Perbedaan ketiganya tampak sederhana. Namun justru di sanalah letak akar dari sebagian besar konflik dalam sejarah umat manusia.

Manusia sering mengira bahwa apa yang dipahaminya adalah kebenaran itu sendiri. Padahal, yang dimilikinya belum tentu lebih dari sebuah tafsir. Ketika tafsir itu kemudian dibela sebagai satu-satunya kebenaran yang sah, lahirlah klaim kebenaran. Dan ketika dua klaim saling berhadapan, dialog perlahan menghilang, digantikan oleh pertengkaran, permusuhan, bahkan peperangan.

Kebenaran sesungguhnya tidak bergantung pada pengakuan manusia. Ia tetap benar meskipun seluruh dunia menolaknya. Matahari tidak berhenti bersinar hanya karena langit sedang tertutup awan. Gravitasi tidak kehilangan daya tariknya hanya karena ada orang yang tidak mempercayainya. Demikian pula hukum-hukum moral yang hakiki tidak berubah hanya karena zaman berganti.

Dalam filsafat klasik, *Aristoteles* menyatakan bahwa kebenaran adalah kesesuaian antara pikiran dengan realitas. Berabad-abad kemudian, *Thomas Aquinas* merumuskan konsep yang terkenal, _veritas est adaequatio rei et intellectus_—kebenaran adalah kesesuaian antara kenyataan dan akal budi.

Artinya, kebenaran berada pada realitas, bukan pada ego manusia. Manusia tidak menciptakan kebenaran. Ia hanya berusaha menemukannya.
Namun pencarian itu selalu dilakukan melalui keterbatasan.

Keterbatasan pengalaman.
Keterbatasan bahasa.
Keterbatasan pengetahuan.
Keterbatasan budaya.
Keterbatasan kepentingan.

Di sinilah lahir apa yang disebut tafsir kebenaran.

Tidak ada manusia yang memandang dunia dari tempat yang sama.
Masing-masing berdiri di atas latar belakang sejarahnya sendiri.

Seorang petani membaca hujan berbeda dengan seorang nelayan. Seorang ekonom memandang inflasi berbeda dengan seorang buruh. Seorang politisi melihat negara dengan sudut yang berbeda dari seorang penyair. Realitasnya sama.
Tetapi cara memahaminya berbeda.

Filsuf hermeneutika *Hans-Georg Gadamer* menjelaskan bahwa setiap manusia memahami dunia melalui horizon pengalaman yang dimilikinya. Tidak ada pemahaman yang benar-benar steril dari sejarah, tradisi, bahasa, maupun kebudayaan.

Karena itu, setiap pemahaman manusia sesungguhnya merupakan dialog antara kenyataan dan pengalaman hidupnya.

Dengan kata lain, manusia hampir selalu hidup dalam wilayah tafsir. Bukan dalam kepemilikan penuh atas kebenaran.

Kesadaran inilah yang seharusnya melahirkan kerendahan hati intelektual. Semakin luas ilmu seseorang, sering kali semakin besar kesadarannya akan luasnya wilayah yang belum diketahuinya.

Tidak mengherankan apabila *Socrates* justru dikenang karena pengakuannya yang sederhana namun mendalam: “_Aku tahu bahwa aku tidak tahu.”_

Kalimat itu bukan tanda kebodohan. Sebaliknya, itulah puncak kebijaksanaan.

Masalah mulai muncul ketika tafsir kehilangan kerendahan hati. Ketika tafsir berhenti menjadi upaya memahami, lalu berubah menjadi alat menghakimi. Di sinilah lahir klaim kebenaran.

Klaim kebenaran bukan lagi sekadar keyakinan bahwa sesuatu itu benar.
Ia adalah keyakinan bahwa hanya dirinyalah yang benar. Dan karena hanya dirinya yang benar, maka pihak lain harus dianggap salah, sesat, bodoh, bahkan layak disingkirkan.

Di sinilah ego mulai menyamar sebagai kebenaran. Padahal yang sedang dipertahankan sesungguhnya bukan kebenaran itu sendiri, melainkan identitas, kelompok, kepentingan, atau harga diri.

Filsuf ilmu *Karl Popper* mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan justru lahir karena manusia bersedia mengakui kemungkinan dirinya keliru. Sebuah teori ilmiah, menurut Popper, bukanlah teori yang kebal terhadap kritik, melainkan teori yang selalu terbuka untuk diuji dan, bila perlu, dibantah.

Ironisnya, dalam kehidupan sosial dan politik, manusia sering melakukan kebalikannya.
Yang dicari bukan lagi kemungkinan salah.
Melainkan pembenaran bahwa dirinya pasti benar.

Sejarah dunia menjadi saksi betapa dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh klaim kebenaran. Perang Salib selama hampir dua abad memperlihatkan bagaimana agama dipertemukan bukan sebagai jalan menuju Tuhan, melainkan sebagai panji-panji peperangan.

Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa menelan jutaan korban akibat pertikaian tafsir keagamaan dan kepentingan politik yang saling bertaut.

Pada abad ke-20, ideologi juga berubah menjadi agama baru. Fasisme, Nazisme, dan Stalinisme lahir dari keyakinan bahwa hanya satu jalan yang benar bagi umat manusia.
Akibatnya, jutaan manusia kehilangan nyawa demi mempertahankan sebuah klaim.

Di zaman modern pun, konflik Palestina–Israel, perang Rusia–Ukraina, pertikaian sektarian di berbagai kawasan Timur Tengah, hingga polarisasi politik di banyak negara memperlihatkan pola yang serupa. Yang bertempur bukan hanya kepentingan.
Tetapi juga narasi tentang siapa yang paling benar.

Masing-masing membangun tafsir sejarahnya sendiri.
Masing-masing merasa menjadi korban.
Masing-masing menganggap dirinya berada di pihak moral.

Padahal sering kali, korban terbesar justru adalah rakyat biasa yang tidak pernah ikut menyusun narasi itu.

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Konflik keluarga. Perselisihan dalam organisasi. Perpecahan partai politik.
Perdebatan di media sosial. Semuanya hampir selalu diawali oleh keyakinan bahwa sudut pandang sendirilah yang paling benar.

Media sosial bahkan memperparah keadaan.
Algoritma membangun apa yang oleh *Cass Sunstein* disebut _echo chamber,_ ruang gema yang terus-menerus memantulkan pendapat yang sama. Sementara *Eli Pariser* memperkenalkan istilah _filter bubble,_ yaitu kondisi ketika seseorang hanya disuguhi informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri.
Akibatnya, manusia semakin jarang bertemu dengan pandangan yang berbeda. Yang berbeda dianggap ancaman. Yang mengkritik dianggap musuh. Yang tidak sejalan dianggap lawan.

Akhirnya, perbedaan tafsir berubah menjadi permusuhan terbuka.

Dalam politik demokrasi, gejala ini menjadi semakin nyata. Pendukung pemerintah merasa dirinya sedang membela negara.
Pengkritik pemerintah merasa dirinya sedang menyelamatkan negara.
Keduanya sama-sama berbicara tentang kepentingan rakyat.
Tetapi keduanya sering terjebak dalam klaim bahwa hanya tafsir merekalah yang mewakili kebenaran. Padahal demokrasi justru dibangun atas kesadaran bahwa tidak ada manusia yang memonopoli kebijaksanaan.

Demokrasi bukan sekedar mekanisme memilih pemimpin. Ia adalah kesediaan untuk mendengar kemungkinan bahwa orang lain melihat sesuatu yang luput dari pandangan kita.

Tradisi filsafat maupun agama sesungguhnya sama-sama mengajarkan kerendahan hati. Dalam hermeneutika, *Paul Ricoeur* mengatakan bahwa setiap penafsiran selalu membuka kemungkinan munculnya penafsiran baru.

Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan indah para ulama klasik:

_”Pendapat kami benar, tetapi mungkin mengandung kekeliruan. Pendapat orang lain keliru, tetapi mungkin mengandung kebenaran.”_

Kalimat sederhana ini menunjukkan kedewasaan intelektual yang luar biasa.
Keyakinan tetap teguh.
Namun kesombongan ditinggalkan.

Barangkali, ukuran kecerdasan seseorang bukanlah seberapa keras ia mempertahankan pendapatnya. Melainkan seberapa besar kesediaannya memperbaiki pendapat itu ketika menemukan alasan yang lebih kuat. Ukuran kebijaksanaan bukanlah banyaknya orang yang mengikuti kita. Melainkan banyaknya ruang yang kita berikan kepada orang lain untuk berbeda.

Dan ukuran kemanusiaan bukanlah kemampuan mengalahkan lawan.
Melainkan kemampuan menjaga martabat mereka yang tidak sepakat dengan kita.

Akhirnya, peradaban tidak runtuh karena manusia kehilangan kebenaran.
Peradaban runtuh ketika manusia berhenti mencari kebenaran dan mulai menyembah tafsirnya sendiri. Karena sejak saat itu, yang dipertahankan bukan lagi nilai-nilai yang luhur, melainkan ego yang dibungkus dengan bahasa moral.

Kebenaran tidak pernah membutuhkan teriakan.
Ia tidak memerlukan kebencian untuk membuktikan dirinya.
Ia tidak membutuhkan kekerasan agar diakui.

Sebaliknya, yang sering membutuhkan teriakan, caci maki, propaganda, bahkan senjata adalah klaim atas kebenaran.

Mungkin sudah saatnya manusia belajar kembali membedakan tiga hal yang selama ini sering disamakan.

Kebenaran adalah tujuan.
Tafsir kebenaran adalah perjalanan. Sedangkan klaim kebenaran sering kali menjadi jalan buntu yang menyesatkan perjalanan itu.

Selama manusia masih mampu membedakan ketiganya, dialog akan tetap hidup, ilmu akan terus berkembang, demokrasi akan menemukan maknanya, dan kemanusiaan akan selalu memiliki harapan.

Sebab, sejarah membuktikan bahwa dunia tidak pernah hancur oleh kebenaran. Dunia berkali-kali terluka oleh manusia yang mengaku telah memiliki seluruh kebenaran.

Galesong Kota, 25 Juli 2026