Ikuti Saluran WhatsApp Syadir Ali Dapatkan tulisan, renungan & informasi terbaru

Rujukannews.com – Pernah merasa liburan justru membuat kamu semakin lelah? Jadwal perjalanan yang padat, berpindah dari satu tempat wisata ke tempat lainnya, hingga sibuk mengabadikan setiap momen terkadang membuat pengalaman liburan terasa kurang menyenangkan.

Kini, ada konsep perjalanan yang bisa menjadi alternatif, yaitu slow tourism. Berbeda dari wisata biasa yang sering berorientasi pada banyaknya destinasi yang dikunjungi, slow tourism mengajak kamu menikmati perjalanan dengan lebih santai, mengenal budaya setempat, dan membangun pengalaman yang lebih bermakna.

Konsep ini juga sejalan dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Melalui desa wisata, misalnya, wisatawan dapat menikmati keindahan alam sekaligus mendukung perekonomian masyarakat lokal dan pelestarian budaya.

Menariknya, Indonesia memiliki banyak destinasi yang cocok untuk menerapkan konsep perjalanan tersebut. Mulai dari desa adat, kawasan persawahan, hingga ekowisata di sekitar danau. Berikut delapan destinasi slow tourism yang bisa kamu masukkan ke dalam daftar liburan berikutnya!

1. Desa Wisata Penglipuran, Bali

Jika ingin menikmati suasana pedesaan yang tenang, Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, bisa menjadi pilihan menarik.

Desa ini terkenal dengan lingkungan yang bersih, rumah tradisional yang tertata rapi, serta suasana khas Bali yang masih terjaga. Kamu bisa berjalan kaki menyusuri kawasan desa, mengamati arsitektur tradisional, dan mengenal kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu daya tariknya adalah penerapan aturan adat yang turut menjaga kebersihan dan keteraturan lingkungan desa.

Daripada terburu-buru mengambil foto di setiap sudut, cobalah menikmati suasana desa sambil berbincang dengan warga dan mempelajari tradisi lokal.

Pengalaman sederhana seperti ini bisa membuat perjalanan terasa lebih berkesan karena kamu tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat setempat.

2. Desa Wisata Nglanggeran, Yogyakarta

Ingin menikmati liburan yang dekat dengan alam? Desa Wisata Nglanggeran di Gunungkidul, Yogyakarta, patut kamu pertimbangkan.

Destinasi ini dikenal dengan Gunung Api Purba Nglanggeran yang memiliki panorama bebatuan unik dan pemandangan alam yang memukau.

Kamu bisa melakukan trekking, menikmati suasana pedesaan, hingga mengenal aktivitas masyarakat setempat. Ada pula pengalaman wisata berbasis budaya dan pertanian yang bisa memberikan perspektif baru tentang kehidupan masyarakat desa.

Nglanggeran juga dikenal sebagai salah satu desa wisata Indonesia yang memperoleh penghargaan Best Tourism Villages dari UN Tourism pada 2021.

Jika berkunjung ke sini, jangan hanya berfokus pada aktivitas mendaki. Luangkan waktu untuk menikmati suasana desa, mencicipi makanan lokal, dan mengenal potensi alam yang dimiliki masyarakat setempat.

3. Desa Wisata Pentingsari, Sleman

Desa Wisata Pentingsari menawarkan pengalaman liburan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Berada di kawasan Sleman, Yogyakarta, desa ini memiliki suasana pedesaan dengan hamparan sawah, pepohonan hijau, serta kehidupan masyarakat yang masih dekat dengan tradisi.

Kamu bisa menginap di homestay milik warga, belajar membuat kerajinan tradisional, mengikuti kegiatan pertanian, hingga menikmati kuliner rumahan.

Pengalaman seperti ini membuat perjalanan terasa lebih personal karena kamu tidak hanya menjadi pengunjung, tetapi juga bisa mengenal kehidupan masyarakat secara langsung.

Selain memberikan pengalaman wisata yang berbeda, kunjungan ke Pentingsari juga dapat membantu mendukung usaha masyarakat lokal. Dengan begitu, liburan yang kamu lakukan turut memberikan manfaat ekonomi bagi penduduk desa.

4. Silimalombu Ecovillage, Sumatera Utara

Bagi kamu yang ingin menikmati suasana alam sekaligus mengenal gaya hidup ramah lingkungan, Silimalombu Ecovillage di Pulau Samosir, Sumatera Utara, bisa menjadi pilihan.

Destinasi ini menawarkan pengalaman tinggal di lingkungan alami dengan pemandangan Danau Toba yang menenangkan.

Salah satu hal menarik dari Silimalombu adalah pemanfaatan tanaman dan hasil alam sekitar menjadi berbagai produk makanan serta kerajinan. Pengunjung juga bisa mengenal pengolahan bahan lokal menjadi produk bernilai tambah.

Konsep tersebut membuat pengalaman wisata tidak hanya berfokus pada pemandangan, tetapi juga memberikan pengetahuan tentang pemanfaatan sumber daya alam secara lebih bijak.

Kamu bisa menghabiskan waktu dengan menikmati suasana danau, mencicipi makanan berbahan lokal, atau sekadar bersantai sambil menikmati udara segar. Tidak perlu menyusun terlalu banyak agenda karena menikmati suasana alam justru menjadi bagian utama dari pengalaman slow tourism.

5. Desa Wisata Wae Rebo, Flores

Kalau ingin merasakan pengalaman liburan yang berbeda, Desa Wisata Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, layak masuk daftar perjalananmu.

Desa adat yang berada di kawasan pegunungan ini terkenal dengan rumah tradisional berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang.

Untuk mencapai desa, kamu perlu melakukan trekking melewati jalur hutan dan perbukitan. Perjalanan tersebut memang membutuhkan tenaga, tetapi pemandangan alam yang ditawarkan menjadi pengalaman tersendiri.

Setibanya di Wae Rebo, kamu bisa mengenal tradisi masyarakat adat, menikmati suasana pegunungan, dan merasakan pengalaman menginap di rumah tradisional.

Kehidupan masyarakat yang masih menjaga adat istiadat menjadi daya tarik tersendiri. Kamu juga berkesempatan mempelajari nilai kebersamaan dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Agar perjalanan lebih bermakna, hormati aturan adat dan ikuti arahan masyarakat setempat selama berkunjung.

6. Desa Wisata Jatiluwih, Bali

Bosan dengan suasana wisata yang terlalu ramai? Persawahan Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali, bisa menjadi tempat untuk menikmati liburan dengan ritme yang lebih lambat.

Destinasi ini terkenal dengan hamparan sawah terasering yang luas dan pemandangan Gunung Batukaru.

Kamu bisa berjalan santai menyusuri jalur persawahan, menikmati udara segar, hingga mempelajari sistem irigasi tradisional Subak yang menjadi bagian penting kebudayaan masyarakat Bali.

Jatiluwih juga mendapatkan pengakuan Best Tourism Villages dari UN Tourism pada 2024.

Selain menikmati panorama alam, kamu bisa mengenal bagaimana masyarakat setempat mempertahankan tradisi pertanian di tengah perkembangan pariwisata.

Destinasi ini cocok bagi kamu yang ingin menggabungkan wisata alam, budaya, dan edukasi dalam satu perjalanan.

7. Desa Wisata Bilebante, Lombok

Desa Wisata Bilebante di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, juga menawarkan pengalaman slow tourism yang menarik.

Desa ini memiliki pemandangan persawahan, suasana pedesaan, dan aktivitas wisata berbasis masyarakat.

Kamu bisa mencoba bersepeda mengelilingi desa, menikmati kuliner lokal, mengenal kegiatan pertanian, hingga berinteraksi dengan warga.

Daya tarik utamanya bukan hanya keindahan alam, tetapi juga kesempatan untuk memahami kehidupan masyarakat setempat.

Bilebante juga mengembangkan potensi wisata berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini menjadikannya pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan sekaligus mendukung kegiatan ekonomi lokal.

Jika berkunjung, cobalah mengurangi aktivitas yang terlalu padat. Nikmati perjalanan bersepeda, singgah di tempat makan lokal, dan luangkan waktu untuk melihat aktivitas masyarakat sehari-hari.

8. Desa Wisata Rammang-Rammang, Sulawesi Selatan

Terakhir, ada Desa Wisata Rammang-Rammang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Destinasi ini terkenal dengan bentang alam karst yang megah, sungai, persawahan, serta suasana pedesaan yang masih alami.

Salah satu aktivitas menarik yang bisa kamu lakukan adalah menyusuri sungai menggunakan perahu tradisional sambil menikmati pemandangan gugusan pegunungan karst.

Kamu juga bisa berjalan-jalan di kawasan desa dan mengenal kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan karst.

Keunikan lanskap alamnya membuat Rammang-Rammang cocok untuk wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam tanpa harus menghabiskan waktu di tempat yang terlalu ramai.

Agar pengalaman lebih berkesan, luangkan waktu untuk menikmati panorama alam tanpa harus mengejar terlalu banyak aktivitas dalam satu hari. Jangan lupa menjaga kebersihan dan tidak merusak lingkungan selama berkunjung.

Kesimpulan

Slow tourism bukan sekadar tren liburan, melainkan cara baru untuk menikmati perjalanan dengan lebih berkualitas. Melalui konsep ini, kamu bisa lebih dekat dengan alam, mengenal budaya lokal, serta merasakan kehidupan masyarakat di destinasi yang dikunjungi.

Delapan destinasi di atas menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari desa adat, kawasan persawahan, pegunungan, hingga ekowisata. Setiap tempat memiliki keunikan yang bisa memberikan pengalaman liburan lebih bermakna.

Jadi, daripada mengunjungi banyak tempat dalam waktu singkat, tidak ada salahnya mencoba perjalanan yang lebih santai dan bermakna. Sebab, liburan berkualitas bukan tentang seberapa banyak destinasi yang berhasil kamu datangi, tetapi seberapa berkesan pengalaman yang kamu bawa pulang.

Ingin menemukan inspirasi wisata, kuliner, dan gaya hidup menarik lainnya? Kunjungi Rujukannews untuk membaca berbagai informasi dan rekomendasi menarik yang bisa menjadi referensi perjalanan serta aktivitas sehari-harimu!

Wartawan: Safira, Editor: Safira