Sinjai, RujukanNews.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi Dapur Sanjai di Desa Sanjai, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, menuai keluhan dari sejumlah sekolah penerima manfaat. Makanan yang dibagikan kepada siswa diduga tidak layak konsumsi, khususnya lauk ayam yang disebut berbau.
Keluhan tersebut disampaikan oleh pihak sekolah yang meminta identitasnya dirahasiakan. Mereka mengaku beberapa kali menemukan lauk ayam dalam kondisi tidak segar hingga akhirnya tidak dikonsumsi oleh siswa.
“Anak-anak tidak mau makan karena ayamnya berbau. Kami khawatir ini berdampak pada kesehatan siswa,” ujar sumber tersebut.
Selain kualitas lauk, penyajian dan distribusi makanan juga disorot. Sejumlah paket MBG dilaporkan tidak tertata dengan baik, bahkan kuah makanan bercampur dengan buah, sehingga menimbulkan pertanyaan terkait standar kebersihan dan higienitas.
Menanggapi hal itu, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Heriwawan, saat dikonfirmasi menegaskan bahwa dirinya hanya berstatus sebagai investor di yayasan pengelola MBG.
“Saya hanya berinvestasi di yayasan. Terkait persoalan ini, yang bertanggung jawab penuh adalah pihak yayasan,” ujar Heriwawan.
Ia juga menyebutkan bahwa kelayakan dan kualitas menu MBG berada di bawah pengawasan tiga orang Pengawas Ahli Gizi (PAG).
“Apakah makanan itu layak konsumsi atau tidak, ada tiga PAG yang mengawasi,” tambahnya.
Namun, saat ditanya terkait dugaan adanya kerja sama antara pengelola yayasan dan Pengawas Ahli Gizi, Heriwawan belum memberikan penjelasan rinci.
“Nanti saya tanyakan ke pengelolanya,” singkatnya.
Sementara itu, pihak Yayasan Astaka Iskandar membantah tudingan makanan basi atau berbau. Iskandar menjelaskan bahwa menu yang dipersoalkan merupakan menu hari Rabu yang belakangan viral, dan pada hari tersebut tidak ada makanan yang dikembalikan.
“Tidak ada makanan yang kembali, artinya makanan tersebut habis dimakan oleh anak-anak,” jelas Iskandar.
Ia juga menegaskan, jika terdapat satu makanan basi, maka seluruh menu pada hari itu seharusnya mengalami hal serupa.
“Kalau ada satu yang basi, maka semuanya di hari itu pasti basi,” katanya.
Meski demikian, Iskandar mengakui pihaknya akan menjadikan keluhan tersebut sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas layanan.
“Kami terus berupaya memperbaiki kualitas. Justru laporan seperti ini bagus sebagai bahan evaluasi. Bisa jadi ada satu atau dua ompreng yang terkontaminasi sehingga menimbulkan bau,” pungkasnya.