RUJUKANNEWS.com – Pada tahun 1980 akses pendidikan di wilayah Gowa bagian tenggara masih sangat terbatas. Sekolah menengah pertama hanya tersedia satu untuk melayani beberapa kecamatan sekaligus. Kondisi ini memaksa anak-anak usia sekolah menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki, melewati bukit, lembah, dan hutan, demi menggapai bangku pendidikan.
SMP Negeri Bontolempangan yang berada di Parang Lompua kala itu menjadi tumpuan harapan banyak keluarga. Setiap pagi, siswa-siswi dari Desa Pa’ladingan, Bungaya, dan sekitarnya memulai perjalanan panjang sebelum matahari tinggi. Jarak yang ditempuh bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga menguji ketahanan fisik dan mental anak-anak sekolah generasi awal tersebut.
Di tengah keterbatasan itulah, alam hadir sebagai penolong. Buah katute—buah liar yang merambat seperti anggur—tumbuh subur di hutan sekitar Pa’ladingan dan Paranglompoa. Buah ini menjadi sahabat setia para pelajar dalam perjalanan menuju sekolah.
Saat rasa lapar dan haus menyergap di tengah jalan, katute menjadi pengurang dahaga dan penunda lapar. Rasanya segar, tandannya mudah dipetik, dan dapat disantap langsung tanpa olahan. Bagi siswa-siswi angkatan awal SMPN Bontolempangan, katute adalah “bekal alami” yang diberikan alam untuk mendukung perjuangan mereka menuntut ilmu.
Lebih dari sekadar buah hutan, katute memiliki makna mendalam bagi angkatan awal sekolah tersebut. Ia menjadi simbol perjuangan—saksi bisu langkah kecil yang penuh semangat dari generasi pertama pelajar SMPN Bontolempangan. Setiap tandan yang disantap di perjalanan menyimpan kenangan kolektif: tawa sederhana, kebersamaan, dan tekad untuk terus melangkah meski lelah.
Buah katute juga menjadi bagian dari warisan lokal yang mengikat identitas Desa Pa’ladingan dan Bungaya sebagai tanah perjuangan pendidikan. Ia merepresentasikan hubungan erat antara alam, masyarakat, dan cita-cita untuk masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.
Bagi generasi sekarang, kisah buah katute adalah pengingat bahwa pendidikan dahulu ditempuh dengan keringat, langkah panjang, dan kesederhanaan yang berpihak pada keteguhan hati. Generasi awal SMPN Bontolempangan telah menorehkan jejak sejarah yang patut dihargai. Dan buah katute, meski kecil dan sederhana, menjadi simbol dari perjuangan besar itu—sebuah pelajaran tentang ketahanan, kebersamaan, dan semangat belajar yang tak lekang oleh waktu.
Tulisan: Muh. Nasir Lewa
Alumni ke-2 SMPN 1 Bontolempangan
Editor: Syadir Ali