AKHYAR, AI, DAN MASA DEPAN: Pelajaran dari Sebuah Rumah Putih di Paranglompoa

 

Oleh Syadir Ali

 

Di Desa Paranglompoa, Kecamatan Bontolempangan, berdiri sebuah rumah bercat putih yang dikelilingi kesejukan alam.

Di depan rumah, sebuah masjid kecil berdiri sederhana namun khidmat, menjadi pusat suara yang memanggil setiap hati untuk kembali mengingat Allah.

Di samping rumah, mengalir sungai kecil yang jernih, sementara kolam ikan di dekatnya memantulkan cahaya sore.

Dan di belakang rumah, terbentang persawahan hijau yang ditimang angin pegunungan.

 

Di rumah putih itulah tinggal seorang anak kelas 2 SD bernama Akhyar, bersama ayahnya, Syadir Ali, seorang pemuda 32 tahun yang memahami dunia digital namun tetap menjunjung nilai agama dan akar kampungnya.

 

Sore itu, angin turun membawa suara daun padi saling bergesekan.

Akhyar duduk di ruang tamu sambil memegang tablet kecil yang layarnya retak.

Ia menatap gambar robot dan tulisan tentang AI yang belum ia pahami.

 

“Ayah… AI itu apa?”

tanyanya lirih.

 

Syadir menutup laptop kerjanya, lalu duduk di samping anaknya.

Dari jendela terbuka, cahaya senja jatuh di dinding putih rumah, disertai suara sungai kecil dari samping rumah.

 

“AI itu kecerdasan buatan, Nak.

Otak yang dibuat manusia.”

 

Akhyar mengernyitkan dahi, polos dan lugu.

 

“Kalau AI pintar… nanti AI gantikan Akhyar juga?”

 

Pertanyaan sederhana, namun menyentuh inti keresahan zaman ini.

 

Syadir tersenyum pelan.

“Nak, AI itu memang cepat, pintar, bisa belajar sendiri.

Tapi AI tidak punya hati.

AI tidak bisa merasa sedih, tidak bisa paham bahagia, tidak tahu apa artinya sayang.”

 

Suara blubuk ikan dari kolam terdengar seolah ikut mendengarkan percakapan itu.

 

“AI hanya menghitung, Nak.

Yang memberi makna tetap manusia.”

 

Akhyar terdiam, memikirkan jawaban itu.

 

Syadir menunjuk tablet kecilnya.

“Coba kamu letakkan.”

 

Akhyar meletakkannya di lantai.

 

“Kau lihat? Kalau tidak kamu sentuh, tidak kamu nyalakan,

tablet itu tidak bisa hidup sendiri.

Begitu juga AI. Tanpa manusia, ia hanya benda mati.”

 

Angin sore masuk dari belakang rumah, membawa aroma sawah dan hutan alami.

 

“Jadi Akhyar tidak kalah oleh AI?”

tanya anak itu dengan mata berbinar.

 

“Kau tidak akan kalah,” jawab Syadir.

“Justru kau akan menang kalau mau belajar.

Masa depan bukan milik AI, tapi milik manusia yang bisa bekerja dengan AI.”

 

Senja Paranglompoa turun perlahan.

Cahaya emas jatuh di cat putih rumah, memantul di kolam ikan, dan menari di permukaan padi yang hijau.

 

Lalu dari depan rumah, suara azan magrib berkumandang.

Gema itu masuk lembut ke ruang tamu, menghentikan percakapan seketika.

 

Syadir berdiri, menatap anaknya penuh makna.

 

“Ayo, Nak… shalat.

Sebelum kamu jadi orang hebat dalam dunia digital,

sebelum kau pandai AI, coding, atau teknologi apa pun…

ada satu hal yang jauh lebih penting.”

 

Akhyar mengangkat wajahnya.

 

“Apa itu, Ayah?”

 

Syadir mengusap rambut anaknya.

 

“Shalat.

Karena sehebat apa pun kamu memahami digital,

sejauh apa pun masa depanmu nanti…

kalau kamu tidak shalat, ya percuma saja, Nak.

Ilmu itu butuh cahaya,

dan cahaya itu datangnya dari Allah.”

 

Akhyar tersenyum, meletakkan tabletnya, lalu memegang tangan ayahnya.

 

Di luar, suara sungai kecil tetap mengalir,

ikan-ikan berenang tenang di kolam,

dan padang sawah bergoyang lembut dihembus angin sore.

 

Namun

langkah kecil Akhyar menuju masjid itulah

yang membuat masa depannya benar-benar bermakna.