RUJUKANNEWS.com, GOWA – Kondisi saluran irigasi yang bersumber dari Bendungan Bili-Bili di Kabupaten Gowa dikeluhkan warga setelah tidak mengalir selama kurang lebih tiga bulan terakhir.
Air yang seharusnya mengalir kini justru mengendap, bercampur sampah, dan menimbulkan bau menyengat. Genangan tersebut juga memicu munculnya nyamuk, lalat, hingga kecoa yang mulai masuk ke permukiman warga.
Saluran irigasi ini diketahui melintasi sejumlah wilayah, mulai dari Kecamatan Bontomarannu hingga Kecamatan Somba Opu. Di sepanjang jalur tersebut, kondisi air terlihat mengering di beberapa titik dan dipenuhi tumpukan sampah.
Kerusakan Saluran Jadi Penyebab
Menanggapi kondisi ini, Syarifuddin, selaku Juru/Pengawas Saluran Irigasi Bili-Bili 1, membenarkan adanya kerusakan serius pada jaringan irigasi.
“Benar, banyak saluran yang jebol, khususnya di BS 3 sekitar Bontomanai dan di belakang kampus,” ujarnya, Selasa (17/3).

Ia mengungkapkan, perbaikan sebenarnya sudah masuk dalam penganggaran dan ditargetkan mulai dikerjakan dalam waktu dekat.
“Sudah dianggarkan paket 1, insya Allah dua bulan ke depan mulai tahap pekerjaan,” jelasnya.
Akses Buruk Hambat Perbaikan
Selain kerusakan, masalah klasik lain adalah buruknya akses jalan inspeksi. Jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan berat menjadi penghambat utama perbaikan.
“Jalan inspeksi tidak memungkinkan mobil truk masuk. Ini kendala utama, sehingga setiap ada kerusakan, penanganannya lambat,” ujar Syarifuddin.
Ia menambahkan, proyek perbaikan juga masuk dalam paket pekerjaan multi year (MYC) yang rencananya akan dikerjakan tahun ini.
“Kami sudah koordinasi ke dinas. Kalau jalan tidak bagus, perbaikan juga pasti terkendala,” jelasnya.
Air “Disedot” Penambak, Warga Hilir Terdampak
Selain kerusakan, persoalan lain yang memperparah kondisi adalah adanya pemanfaatan air irigasi oleh penambak ikan menggunakan pipa berukuran besar.
“Kami juga prihatin, ada penambak yang ambil air pakai pipa besar, sehingga aliran tidak sampai ke hilir,” ungkap Syarifuddin.
Kondisi ini membuat distribusi air menjadi tidak merata, bahkan memicu konflik kepentingan antara pengguna air di hulu dan hilir.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa menaikkan debit air bukan solusi instan.
“Kalau debit dipaksa dinaikkan, justru bisa berisiko membuat saluran semakin banyak yang jebol,” jelasnya.
Sampah Perparah Kondisi
Selain itu, persoalan sampah juga memperburuk kondisi irigasi. Tumpukan sampah menyebabkan aliran tersumbat dan mempercepat kerusakan.

“Ini juga soal kesadaran masyarakat. Jangan buang sampah sembarangan di saluran,” tegas Syarifuddin.
Warga Minta Solusi Nyata
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret. Pasalnya, kondisi ini sudah berlangsung berbulan-bulan dan berdampak langsung pada lingkungan serta kesehatan warga.
“Harapan kami sederhana, air bisa kembali mengalir normal seperti dulu, supaya tidak ada lagi bau dan hama di sekitar rumah,” ujar salah seorang warga.(*)