Ketika Raukan dan Pattapi Menuntun Lima Warga Masuk ke Maranne dan Doa Menuntun Mereka Pulang
Oleh Syadir Ali
Ada peristiwa-peristiwa kecil dalam hidup yang tiba-tiba menjadi cermin besar bagi kita semua.
Kisah lima warga Jambu Kaccia yang hilang saat mencari raukan di Hutan Maranne adalah salah satunya.
Mereka pergi dengan tujuan sederhana: mencari rotan, menganyam Pattapi, dan membawa pulang rezeki untuk keluarga. Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada agenda besar—hanya kenyataan hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya: bahwa di pedalaman, hutan adalah dapur, tempat bergantung, sekaligus ladang harapan.
Namun ketika mereka tidak kembali pada hari itu, kita disadarkan betapa rapuhnya hidup orang-orang kecil yang setiap hari menantang medan, cuaca, dan waktu demi bertahan hidup.
Hutan yang Sama, Risiko yang Berbeda
Hutan Maranne bukan tempat asing bagi mereka. Namun rimba memiliki kehendaknya sendiri. Pada hari tertentu, tempat yang biasanya mereka kenal bisa berubah menjadi labirin yang menelan arah, memutus sinyal, menutup jalur, dan menyisakan gelap yang menakutkan.
Hilangnya lima warga itu bukan hanya peristiwa tersesat—tetapi potret bagaimana risiko pekerjaan tradisional jarang mendapat sorotan.
Pencari raukan, penganyam Pattapi, petani, peternak—mereka adalah masyarakat yang jarang terlihat, tetapi menjadi fondasi kehidupan pedesaan.
Kita kerap menikmati hasilnya tanpa pernah melihat peluh yang menyertainya.
Pergerakan yang Membawa Hasil
Ketika malam turun dan lima warga itu tak kunjung kembali, satu kampung bergerak tanpa menunggu komando.
Puluhan warga menyusuri hutan hingga 03.30 dini hari, menembus lebih dari 10 kilometer, dalam gelap dan jalur licin.
Itulah solidaritas yang tidak diajarkan oleh sekolah mana pun—ia lahir dari naluri kemanusiaan yang paling tulus.
Pagi harinya, Basarnas, BPBD, Baznas Makassar, TNI–Polri, tenaga medis, dan relawan berkumpul di Posko Jambu Kaccia.
Di sisi lain, para ibu menahan cemas, menggantungkan harapan pada setiap langkah tim yang bergerak lebih dalam ke Maranne.
Dan akhirnya kabar itu datang.
Lima sosok berjalan menuju Balla Borong Taroang—letih, basah, tetapi hidup.
Camat Bungaya menyampaikan kalimat paling jujur yang mencerminkan lega satu kampung:
“Alhamdulillah, ditemukan selamat iye semua.”
Sederhana, tapi cukup untuk menutup malam panjang penuh kecemasan.
Pelajaran dari Sebuah Pattapi
Pattapi bukan sekadar wadah anyaman.
Ia adalah simbol hidup masyarakat yang bertahan dengan kemampuan tangan dan keteguhan hati.
Di balik satu Pattapi sederhana, ada perjalanan jauh ke hutan, ada risiko tersesat, ada kemungkinan tak pulang.
Yang mereka cari bukan kekayaan—melainkan keberlanjutan hidup.
Kisah ini mengajak kita melihat ulang:
Bahwa perjuangan warga pedalaman bukan hal kecil.
Bahwa keselamatan mereka bukan sesuatu yang boleh diabaikan.
Bahwa tiap langkah mereka di hutan adalah bentuk perjuangan yang layak dihargai.
Sikatutui, Sipammase
Kata-kata ini sering terdengar di lereng-lereng Gowa.
Saling menopang, saling mengasihi.
Dan itulah yang benar-benar terjadi di Maranne:
Warga yang menyisir hutan, aparat yang menguatkan pencarian, relawan yang mengangkat logistik, dan doa-doa yang tidak pernah putus.
Editorial ini bukan sekadar pengingat bahwa lima warga kembali selamat.
Ia adalah pengingat bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar sebuah kampung, dan bahwa hidup orang-orang kecil yang bergantung pada hutan harus menjadi perhatian kita semua.
Sebab dalam gelap hutan, dalam deras hujan, dan dalam cemas yang menyeruak, selalu ada cahaya yang menuntun pulang.
Dan cahaya itu adalah kita—manusia yang tidak pernah berhenti peduli.
Syadir Ali
