ASN Malas dan Tidak Disiplin: Cermin Buram Birokrasi Kita

Oleh: Ardi Muh Syadir

Dalam diam, banyak kantor pemerintahan pagi-pagi masih lengang.

Jam sudah menunjukkan pukul 08.00, tapi kursi-kursi masih kosong.

Pegawai Negeri Sipil — yang seharusnya menjadi teladan kedisiplinan — malah datang santai, seolah waktu negara bisa mereka tunda seenaknya.

Fenomena ini bukan cerita baru. Dari kantor desa hingga instansi kabupaten, wajah birokrasi kita sering diwarnai oleh rutinitas tanpa semangat. Ada yang hadir hanya untuk absen, ada pula yang lebih sibuk dengan kopi dan gawai ketimbang melayani masyarakat. Ironisnya, sebagian dari mereka justru merasa “sudah berjasa” hanya karena memakai seragam dan menandatangani daftar hadir.

Padahal, menjadi ASN bukan sekadar status. Ia adalah amanah dan pengabdian. Gaji dan tunjangan yang mereka terima berasal dari pajak rakyat — dari keringat petani, pedagang, buruh, hingga tukang ojek yang setiap hari berjuang mencari nafkah.

Tapi apakah mereka sadar, ketika malas dan tidak disiplin, berarti mereka sedang mengkhianati rakyat yang menggaji mereka?

Kita butuh ASN yang bekerja bukan karena takut diawasi, tapi karena punya rasa tanggung jawab moral. Kita butuh birokrat yang datang pagi bukan demi absen, tapi demi pelayanan. Kita butuh aparatur yang sadar bahwa setiap detik keterlambatan, setiap berkas yang ditunda, setiap pelayanan yang lamban — adalah bentuk kecil dari korupsi waktu.

Pemerintah memang sering bicara tentang reformasi birokrasi, tapi reformasi sejati tidak akan lahir dari aturan semata. Ia harus tumbuh dari kesadaran personal, dari nurani setiap ASN. Karena tidak ada sistem yang bisa memperbaiki mental malas, kalau manusianya sendiri tidak mau berubah.

Sudah saatnya kita berhenti memaklumi kemalasan atas nama “sudah biasa”.

Negara ini tidak butuh ASN yang sekadar hadir, tapi ASN yang benar-benar bekerja.

Kalau tidak bisa jadi pelayan rakyat, maka setidaknya jangan jadi beban rakyat.