RUJUKANNEWS.com, GOWA – Edukasi kesehatan terkait HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) terus digencarkan di wilayah dataran tinggi Kabupaten Gowa. Seorang dokter, dr. Fajrin Ashari, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih bijak dalam pergaulan guna menghindari berbagai risiko kesehatan serius.
dr. Fajrin yang bertugas di Puskesmas Tompobulu, Kabupaten Gowa, sekaligus owner layanan kesehatan Dottoro’ta di Borongbiraeng, Desa Garing, Kecamatan Tompobulu, menekankan bahwa perubahan pola pergaulan di era modern turut memicu meningkatnya risiko penularan penyakit, terutama yang berkaitan dengan perilaku berisiko.
Menurutnya, pergaulan yang tidak terkontrol—seperti hubungan seksual berisiko, berganti pasangan, hingga penggunaan jarum suntik tidak steril—menjadi faktor utama penyebaran HIV dan IMS.
“Masalah ini bukan hanya soal penyakit, tapi juga bagaimana seseorang menjaga diri, memilih lingkungan pergaulan, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan,” jelasnya.
Ia mengingatkan, dampak HIV dan IMS tidak hanya menyerang kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis, sosial, hingga masa depan seseorang. Stigma terhadap penderita pun masih menjadi persoalan yang memperburuk keadaan.
Meski demikian, dr. Fajrin menegaskan bahwa penyakit ini dapat dicegah dan dikendalikan jika masyarakat memiliki kesadaran sejak dini.
“Ini penyakit yang sangat mudah dicegah dan diobati, asalkan kita mau peduli, menjaga diri, dan tidak ragu memeriksakan kesehatan,” tegasnya.
Menariknya, dr. Fajrin juga meluruskan pemahaman masyarakat terkait tingkat penularan HIV yang kerap disalahartikan.
“Intinya HIV itu tidak perlu ditakuti secara berlebihan, karena penularannya tidak mudah. Justru penyakit seperti TBC, hepatitis, dan pneumonia lebih mudah menular karena bisa melalui udara. Kalau HIV, penularannya sangat spesifik, jadi sebenarnya sangat bisa dihindari,” jelasnya.
Ia menambahkan, banyak kasus terjadi karena kurangnya edukasi serta rasa takut untuk melakukan pemeriksaan. Padahal, deteksi dini merupakan langkah penting untuk mencegah penularan lebih luas dan mempercepat penanganan medis.
Sebagai solusi, ia mengajak masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, menjaga batas dalam pergaulan, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
“Skrining itu penting dan tidak perlu takut. Privasi pasien dijamin. Lebih baik mencegah daripada menyesal di kemudian hari,” tambahnya.
Selain itu, dr. Fajrin juga mendorong peran keluarga, lingkungan, dan lembaga pendidikan dalam memberikan pemahaman sejak dini terkait kesehatan reproduksi dan bahaya perilaku berisiko.
Upaya edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, mengurangi stigma terhadap penderita, serta menekan angka penularan HIV dan IMS, khususnya di Kabupaten Gowa.(*)