RUJUKANNEWS.com, GOWA – Upaya pencegahan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) di kalangan remaja terus didorong. Dokter di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, dr. Fajrin Ashari, merencanakan kegiatan edukasi kesehatan yang akan menyasar siswa SMA/sederajat dalam waktu dekat.
Dokter yang bertugas di Puskesmas Tompobulu sekaligus owner layanan kesehatan Dottoro’ta di Borongbiraeng, Desa Garing ini menilai bahwa edukasi sejak dini sangat penting, mengingat pengaruh pergaulan dan media sosial yang semakin kuat di kalangan pelajar.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat berbagai informasi—baik positif maupun negatif—dapat dengan mudah diakses oleh remaja, termasuk yang berkaitan dengan gaya hidup dan pergaulan.
“Sekarang ini, pengaruh dari luar sangat cepat masuk, termasuk lewat media sosial. Kalau tidak dibarengi edukasi yang benar, anak-anak bisa terpengaruh tanpa memahami risikonya,” jelas dr. Fajrin.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar kasus HIV terjadi karena perilaku berisiko yang sebenarnya dapat dihindari. Karena itu, edukasi yang akan diberikan nantinya difokuskan pada pemahaman penyebab, cara penularan, serta langkah pencegahan yang tepat.
Dalam materi yang direncanakan, pelajar akan diberikan pemahaman bahwa penularan HIV umumnya terjadi melalui hubungan seksual berisiko tanpa pengaman—baik pada hubungan sesama jenis maupun lawan jenis—berganti-ganti pasangan, serta penggunaan jarum suntik yang tidak steril.
“Kuncinya ada pada perilaku. Siapa pun bisa berisiko kalau tidak menjaga diri,” tegasnya.
Selain itu, dr. Fajrin juga akan meluruskan berbagai kesalahpahaman yang masih berkembang di masyarakat. Ia menekankan bahwa HIV tidak menular melalui interaksi sehari-hari seperti bersalaman, makan bersama, atau berada dalam satu lingkungan yang sama.
“Intinya HIV itu tidak perlu ditakuti secara berlebihan, karena penularannya tidak gampang. Justru penyakit seperti TBC, hepatitis, dan pneumonia lebih mudah menular karena bisa lewat udara. Kalau HIV, penularannya sangat spesifik, jadi sangat bisa dihindari,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam memberikan edukasi yang tepat kepada anak-anak. Menurutnya, tanpa pengawasan dan pembekalan yang baik, remaja rentan terpengaruh oleh lingkungan dan tren yang belum tentu benar.
“Walaupun banyak kasus ditemukan di kota, bukan berarti daerah seperti Tompobulu aman. Anak-anak di sini juga bisa terpengaruh karena akses media sosial sekarang sangat cepat,” tambahnya.
Melalui rencana edukasi ini, dr. Fajrin berharap para pelajar dapat memahami risiko sejak dini, lebih bijak dalam pergaulan, serta mampu menjaga diri dari perilaku yang dapat berdampak pada kesehatan dan masa depan mereka.
“Jangan coba-coba hal yang berisiko. Masa depan kalian masih panjang. Lebih baik menjaga daripada menyesal di kemudian hari,” pesannya.
Rencana kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentengi generasi muda dari risiko penularan HIV dan IMS, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya hidup sehat dan bertanggung jawab.