RUJUKANNEWS.com, GOWA – Di tengah sorotan terhadap pengelolaan Dana Desa di Desa Rappolemba, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, tersimpan sebuah realitas yang tak kalah penting: kekuatan ekonomi lokal yang selama ini menjadi penopang utama kehidupan masyarakat.
Sejumlah persoalan memang mencuat ke permukaan, mulai dari kondisi infrastruktur jalan tani yang dinilai belum optimal, pembangunan lapangan desa yang belum maksimal, hingga program ketahanan pangan yang masih menunggu pemaparan lebih rinci kepada publik.
Namun di balik dinamika tersebut, Rappolemba justru memperlihatkan fondasi ekonomi yang kuat dari sektor pertanian.
Di dataran tinggi ini, labu siam (labu jipang) tumbuh subur dan menjadi salah satu komoditas yang menopang penghasilan warga. Tanaman ini mampu dipanen sepanjang tahun dan telah menjadi bagian dari ritme ekonomi masyarakat.
“Labu siam di sini memang jadi salah satu andalan, karena hampir semua warga tanam dan bisa panen terus,” ujar salah satu warga.
Meski demikian, ada satu komoditas yang perannya jauh lebih dominan—kopi.
Sekretaris Desa (Sekdes) Rappolemba, Muhtar, menyebut bahwa kopi merupakan sumber penghasilan terbesar masyarakat.
“Yang lebih banyak penghasilan di Rappolemba itu adalah kopi,” ujarnya.
Dengan kondisi geografis dataran tinggi yang ideal, kopi Rappolemba tumbuh dengan karakter kuat dan menjadi tulang punggung ekonomi warga. Aktivitas pengolahan sederhana pun mulai berkembang, ditandai dengan penggunaan mesin penggiling untuk menghasilkan kopi bubuk bernilai jual lebih tinggi.
Dari sisi harga, kopi Rappolemba menunjukkan dinamika pasar yang cukup menarik. Di tingkat petani, transaksi masih menggunakan satuan lokal berupa liter.
Berdasarkan keterangan pemerintah desa, biji kopi berkulit dihargai sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000 per liter, sementara biji kopi kupas berada di kisaran Rp22.000 per liter. Untuk kopi bubuk kemasan, harganya mencapai sekitar Rp15.000 per 100 gram, sedangkan kopi siap goreng berada di kisaran Rp85.000 per kilogram.
Di sisi lain, informasi dari sumber lapangan lainnya menunjukkan adanya variasi harga. Biji kopi berkulit disebut berada di kisaran Rp9.500 hingga Rp11.000 per liter, sementara biji kopi kupas mencapai Rp25.000 hingga Rp27.000 per liter. Adapun kopi siap goreng dapat menyentuh harga Rp93.000 hingga Rp95.000 per kilogram.
Perbedaan ini mencerminkan dinamika pasar sekaligus menegaskan satu hal penting: kopi bukan sekadar komoditas, melainkan aset ekonomi strategis bagi masyarakat Rappolemba.
Di tengah keterbatasan Dana Desa yang ke depan berpotensi menjadi tantangan dalam pembangunan, terutama pada sektor infrastruktur, potensi lokal seperti kopi justru menjadi kunci untuk mendorong kemandirian ekonomi desa.
Dalam konteks ini, peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi krusial. Melalui pengelolaan yang terstruktur—mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran—BUMDes dapat menjadi penggerak utama dalam meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
Program ketahanan pangan pun diharapkan tidak berhenti pada tataran kegiatan, tetapi terintegrasi dengan penguatan ekonomi desa agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun sistem ekonomi yang berkelanjutan.
Jika dikelola secara serius dan terarah, potensi besar yang dimiliki Rappolemba tidak hanya mampu menjawab berbagai persoalan yang ada, tetapi juga membuka jalan menuju satu tujuan besar: menjadi desa unggul berbasis kekuatan ekonomi lokal.
Tanpa langkah tersebut, bukan tidak mungkin potensi besar ini hanya akan menjadi peluang yang terlewatkan di tengah berbagai dinamika yang terjadi.