RUJUKANNEWS.com, GOWA — Di tengah suasana Ramadan yang identik dengan kepedulian dan kebersamaan, Donny (49) justru menjalani hari-harinya dalam kesunyian.
Ia kini hanya bisa terbaring lemah di sebuah kamar di Kost ABID, Kelurahan Tamalayang, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa. (27/2/2026)
Sudah dua tahun lamanya hidup Donny berubah drastis setelah mengalami kecelakaan kerja saat memasang kabel jaringan fiber optik.
Saat itu, ia tersengat listrik di atas tiang setinggi sekitar sembilan meter sebelum akhirnya terjatuh.
Insiden tersebut menyebabkan patah tulang belakang yang berujung pada kelumpuhan di kedua kakinya.
Sejak saat itu, berdiri, berjalan, bahkan bangun dari posisi tidur menjadi hal yang sangat sulit baginya.
“Saya masih bisa bernapas, tapi tubuh ini sudah tidak berdaya untuk bergerak,” ungkap Donny.
Hidup sendiri di kamar kost
Kini, Donny menjalani kehidupan seorang diri di kamar kost sederhana itu.
Tanpa keluarga yang tinggal bersamanya, ia hanya mengandalkan bantuan seorang paman yang berada tidak jauh dari lokasi.
Pamannya sesekali datang membawakan makanan.
Namun untuk kebutuhan lain, Donny harus menunggu, termasuk saat ingin ke kamar mandi.
“Kalau ingin ke WC, saya harus menunggu. Kadang harus dua orang untuk mengangkat saya,” katanya.
Bekerja tanpa kontrak
Sebelum kecelakaan, Donny bekerja sebagai teknisi pemasangan jaringan fiber optik dengan sistem borongan per meter.
Ia bukan pekerja kontrak resmi.
Upah diberikan melalui mandor.
Namun, harapan untuk mendapatkan pertanggungjawaban dari jalur pekerjaan kini tertutup setelah mandor yang dahulu menjadi penghubung pekerjaannya meninggal dunia akibat kecelakaan kerja.
Sejak saat itu, Donny tidak memiliki perlindungan kerja maupun santunan.
Terhambat status administrasi
Di tengah kondisi fisik yang memprihatinkan, Donny juga menghadapi persoalan administratif.
Meski kini tinggal di wilayah Gowa, ia memiliki KTP Takalar.
Kondisi ini membuat bantuan dari pemerintah setempat belum dapat diberikan karena dianggap bukan kewenangan wilayah.
Sebaliknya, bantuan dari Takalar juga tidak dapat diproses karena ia berdomisili di Gowa.
Upaya pengurusan administrasi selama ini turut dibantu oleh pihak humas Ormas GRIB Jaya Kabupaten Gowa.
Donny mengaku, sejauh ini ia cukup terbantu dengan kehadiran organisasi tersebut, khususnya dari ketuanya yang kerap memberikan bantuan sesuai kemampuan.
Pernah memohon bantuan, namun belum terealisasi
Donny mengungkapkan bahwa dirinya pernah memohon bantuan kepada pemerintah Takalar.
Pada awal musibah, ia sempat dijenguk oleh pihak Dinas Sosial Takalar.
Saat itu, ia berharap bisa mendapatkan bantuan berupa kursi roda serta kebutuhan dasar seperti sembako, beras, dan popok dewasa.
Namun harapan tersebut belum dapat terpenuhi.
Pihak Dinas Sosial disebut sempat menyampaikan akan melakukan konfirmasi lebih lanjut.
Beberapa waktu kemudian, Donny menerima pesan melalui WhatsApp yang menyatakan bahwa permohonannya belum dapat dikabulkan karena namanya tidak terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Bertahan dengan harapan
Dalam keterbatasan fisik dan minimnya dukungan, Donny kini hanya berharap pada kepedulian banyak pihak.
Meski demikian, ia mengaku bersyukur masih ada pihak yang turut merasakan dan membantu kesulitannya.
“Selama ini saya cukup terbantu dengan perhatian dan bantuan dari GRIB Jaya,” tuturnya.
Di kamar sederhana di Kost ABID, Tamalayang, hari-hari Donny berlalu dalam sunyi.
Di tengah Ramadan yang membawa harapan bagi banyak orang, Donny hanya menanti satu hal — uluran tangan agar ia bisa terus bertahan.
Penulis: Syadir Ali
