📝 Kisah ini menjadi gambaran bahwa pengabdian tidak selalu berjalan di jalan yang mudah.

RUJUKANNEWS.com, GOWA — Jalan rusak di Dusun Borongbulo, Desa Paranglompoa, Kecamatan Bontolempangan, selama ini menjadi keluhan warga. Berbatu, licin saat hujan, dan berdebu saat kemarau.

Namun di balik kondisi tersebut, ada kisah tentang pengabdian yang terus dijaga selama puluhan tahun.

Rusniati, seorang guru di SD Borongbulo, telah mengabdikan dirinya selama 21 tahun. Sekolah itu juga menjadi tempat Rangga menimba ilmu—siswa yang sempat viral karena ke sekolah hanya membawa singkong bakar sebagai bekal.

Setiap hari, Rusniati harus melewati jalan yang tidak pernah benar-benar mudah dilalui.

“Kalau musim hujan, saya biasanya berangkat lebih cepat. Karena kalau sudah banyak kendaraan lewat, jalanan makin licin,” ujar Rusniati.

Ia biasa berangkat sekitar pukul 06.30 Wita. Namun waktu tempuh menuju sekolah tidak menentu.

“Kadang sampai jam 7.00, kadang lewat 7.15. Tergantung kondisi di jalan,” katanya.

Adapun perjalanan menuju sekolah kerap diwarnai berbagai kendala. Mulai dari motor mogok, jalan licin, hingga tanah berlumpur yang sulit dilalui.

Meski demikian, Rusniati tetap berusaha hadir tepat waktu.

Ia mulai mengajar sejak tahun 2005. Selama 18 tahun berstatus honorer, ia dinyatakan lulus PPPK pada 2022, dengan SK pengangkatan terbit pada 1 Juni 2023.

“Dari dulu, waktu masih honorer juga tetap rajin dan disiplin,” tuturnya.

Sementara itu, perjuangannya di masa lalu bahkan lebih berat. Saat akses jalan belum memadai, ia harus berjalan kaki dari wilayah Cambang menuju sekolah.

“Dulu simpan motor di Cambang, baru lanjut jalan kaki ke sekolah,” kenangnya.

Saat ini, meski sebagian jalan sempat diperbaiki, akses menuju sekolah belum sepenuhnya mudah.

“Paling sampai tengah, habis itu lanjut jalan kaki lagi,” katanya.

Kondisi tersebut tidak hanya dirasakan Rusniati.

Guru-guru lain di SD Borongbulo juga menghadapi tantangan serupa setiap hari. Jalan rusak, licin saat hujan, dan sulit dilalui telah menjadi bagian dari rutinitas mereka.

Namun demikian, mereka tetap datang menjalankan tanggung jawab sebagai pendidik.

Saat ini, kondisi jalan di Borongbulo masih menjadi keluhan warga. Selain menghambat aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut juga mulai berdampak pada penyaluran program pemerintah, termasuk distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di tengah keterbatasan itu, Rusniati bersama guru-guru lainnya tetap menjalankan tugasnya.

Kisah ini menjadi gambaran bahwa pengabdian tidak selalu berjalan di jalan yang mudah.

Di saat sebagian orang memiliki akses yang lebih baik, masih ada yang harus berjuang lebih keras untuk sekadar hadir tepat waktu.

Sementara di Borongbulo, para guru tetap datang tanpa menunggu keadaan menjadi lebih baik.

Karena bagi mereka, yang utama bukan kemudahan—melainkan tanggung jawab.

Dan itu yang mereka buktikan, hari demi hari. (*)