RUJUKANNEWS.com, GOWA – Rentetan kebakaran yang terjadi di wilayah dataran tinggi Kabupaten Gowa kembali menjadi perhatian. Terbaru, dua unit rumah warga di Dusun Bontomanai, Desa Bontobuddung, Kecamatan Tompobulu, hangus terbakar pada Selasa (21/4/2026) sekitar pukul 23.15 WITA.

Rumah milik Hasbullah dan Arsyad dilaporkan ludes dalam waktu singkat. Warga yang berada di lokasi hanya mampu melakukan pemadaman dengan alat seadanya.

Kapolsek Tompobulu, , membenarkan kejadian tersebut.

“Iya, kebakaran dua unit rumah,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan warga, api pertama kali muncul dari rumah Hasbullah sebelum kemudian merambat ke rumah Arsyad. Api cepat membesar dan sulit dikendalikan. Dugaan sementara, kebakaran dipicu oleh korsleting listrik.

Namun di balik peristiwa ini, persoalan yang kembali mencuat adalah lambatnya penanganan akibat tidak adanya jangkauan cepat mobil pemadam kebakaran.

Jika ditarik ke belakang, peristiwa di Bontobuddung bukan kejadian tunggal.

Di Desa Rappolemba, Kecamatan Tompobulu, kebakaran pernah menghanguskan tiga rumah dan merenggut dua nyawa—seorang ibu dan anak yang ditemukan meninggal dalam kondisi berpelukan.

Pada April 2026, kebakaran juga terjadi di Kelurahan Tonrorita, Kecamatan Biringbulu, serta di Desa Mangempang, Kecamatan Bungaya, yang sama-sama menghanguskan rumah warga.

Bahkan pada 2021, kebakaran di Desa Paranglompoa, Kecamatan Bontolempangan, menghanguskan dua rumah dan menyebabkan kerugian hingga ratusan juta rupiah, termasuk uang tunai Rp310 juta.

Kesamaan dari semua kejadian tersebut terlihat jelas: api cepat membesar, sementara penanganan awal sepenuhnya bergantung pada warga.

Di tengah kondisi ini, muncul sorotan dari masyarakat terkait prioritas pembangunan. Warga menilai pengadaan mobil sampah di berbagai desa berjalan lebih masif dibandingkan penyediaan armada pemadam kebakaran di wilayah dataran tinggi.

Meski sempat ada damkar mini di beberapa titik, keberadaannya dinilai belum optimal dalam menjangkau wilayah pegunungan dengan kondisi medan yang sulit.

Akibatnya, masyarakat di kawasan seperti Tompobulu dan sekitarnya masih menghadapi risiko kebakaran tanpa dukungan layanan darurat yang memadai.

Secara geografis, wilayah dataran tinggi Gowa memiliki tantangan tersendiri—akses jalan terbatas, rumah berbahan kayu, serta jarak yang jauh dari pusat layanan darurat.

Warga berharap pemerintah Kabupaten Gowa dapat menghadirkan solusi nyata, khususnya penyediaan mobil pemadam kebakaran yang mampu menjangkau wilayah pegunungan serta pembangunan pos damkar yang lebih dekat dengan permukiman.

Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran di Bontobuddung. Namun rentetan kejadian yang terus berulang menjadi pengingat bahwa tanpa penanganan cepat, risiko kerugian besar hingga korban jiwa akan selalu mengintai masyarakat di dataran tinggi.(*)